Aminin

Melihat sosoknya, rasanya sulit membayangkan bahwa dia seorang anggota Resimen Mahasiswa. Namun itulah dia, Aminin, mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang telah melewati masa-masa pendidikan yang cukup berat, kini menjabat sebagai Kepala Sub Urusan Keputrian. Aminin juga merupakan salah satu mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan Nasional yang ditujukan kepada siswa berprestasi namun tidak mampu secara finansial. Bagaimana cerita Aminin hingga ia menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, mari kita simak.

Dapat kuliah di UGM merupakan keinginan sebagian besar anak-anak di Indonesia dan kamukah salah satunya? Baik yang sekarang sudah sukses menembus ujian-ujian masuk sehingga pada tanggal 8 September 2011 kalian akan mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada ataukah yang kesempatannya masih tertunda di tahun ini? Melalui tulisan ini saya ingin menceritakan kenangan-kenangan perjuangan saya untuk dapat melanjutkan pendidikan lanjut di Universitas Gadjah Mada yang pada akhirnya saya memperoleh beasiswa Bidik Misi.

 

Tahun 2010 merupakan tahun kelulusan saya dari SMA. Saya berasal dari SMA Negeri  11 Yogyakarta dan saya merupakan salah seorang siswi di kelas XII IPA. Pada tahun tersebut selain mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional juga merupakan tahun saya untuk bersiap-siap memasuki  jenjang pendidikan yang berikutnya yaitu Perguruan Tinggi. Melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu cita-cita saya, namun kondisi keuangan keluarga membuat saya juga pikir-pikir  tentang kelanjutan pendidikan saya.

Saya lahir di keluarga dengan empat orang anak, saya, Aminin sebagai anak tertua di keluarg saya dengan pekerjaan ayah sebagai penjual buah berpenghasilan sangat pas-pasan. Mengetahui kondisi keuangan keluarga saya, salah seorang guru BK (Bimbingan dan Konseling) di SMA saya menyarankan saya untuk mengikuti jalur PBUTM (Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu) UGM yang merupakan salah satu jalan masuk UGM untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berprestasi. Saya pun mengikuti jalur tersebut dengan pilihan S1 Ilmu Keperawatan namun ternyata memang belum nasibnya, saya tidak diterima di jalur tersebut. Kemudian saya pun mengikuti jalur UM UGM dengan pemilihan SPMA nol namun ternyata belum berhasil juga. Pada tahun itu juga Sekolah Vokasi D3 UGM juga membuka jalur PBUTM yang kemudian saya juga disarankan oleh guru BK untuk mengikuti jalur tersebut. Saya pun kemudian mengikuti jalur PBUTM Sekolah Vokasi D3 dan memilih rekam medis. Namun ternyata lagi-lagi saya tidak diterima.

Hanya tinggal kesempatan terakhir di jalur SNMPTN untuk bisa masuk UGM. Meskipun agak kecewa saya tetap tidak menyerah dan tetap terus belajar. Alhamdulillah, saya berhasil masuk jurusan Biologi UGM dengan SPMA nol. Akhirnya, keinginan saya terkabul juga dan saya pun tidak perlu membayar biaya SPMA.

Dengan perjuangan selama itu ternyata masih ada kabar baik lagi yang menanti saya. Pada bulan September 2010 UGM mengumumkan mahasiswa-mahasiswa penerima bidik misi dan nama saya termasuk dalam daftar tersebut. Dengan beasiswa bidik misi tersebut tidak hanya terbebas dari tidak membayar SPMA namun saya juga mendapat fasilitas tidak perlu membayar SPP dan BOP selama empat tahun penuh. Bahkan saya mendapatkan uang saku tiap bulannya sebanyak lima ratus ribu rupiah.

Memang segala yang kita peroleh pastilah yang terbaik untuk kita. Awalnya saya pun pasrah saja ketika sudah diterima di UGM. Jika nantinya tidak bisa bayar SPP dan BOP tidak masalah karena semua yang saya kerjakan sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya, jika nantinya saya memang tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan dana bagi saya tidak masalah yang penting memang sudah mengusahakan yang terbaik. Namun, Allah memang Maha Besar. Beasiswa Bidik Misi yang saya dapatkan membuat hati saya lega dan tidak perlu bersusah hati lagi untuk memikirkan biaya kuliah. Saya pun dapat lebih untuk fokus belajar.

Segala sesuatu yang ingin kita peroleh memang memerlukan usaha yang tidak sedikit bahkan sering yang kita usahakan bukanlah yang terbaik untuk kita sehingga Allah memberikan hal diluar keinginan ataupun rencana kita. Namun, memang Allah itu Maha Adil karena memang yang kita peroleh adalah sesuatu yang pantas untuk kita. Bukan karena perbandingan usaha dengan hasil yang kita peroleh tapi karena kesungguhan hati dan usaha meskipun kita tahu takdir yang menentukan namun usaha bukanlah sesuatu yang sia-sia karena biarpun takdir yang menetukan namun saya yakin Allah juga melihat usaha kita. Karena itu jika memang sudah melakukan yang terbaik dan melaksanakan usaha dengan sungguh-sungguh, maka hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah percaya atas apa yang akan kita peroleh.

Tidak perlu takut untuk bermimpi yang tinggi-tinggi karena tidak ada seorang pun yang melarang kita untuk berusaha meraih mimpi. Dan masuk UGM bukanlah hanya sekedar mimpi sia-sia karena siapapun dan dimanapun dapat berusaha untuk memasukinya. Jangan takut untuk terus maju karena ketika sudah menyerah maka ada hal-hal baik yang akhirnya tidak jadi kita dapatkan.

 

 

Tagged on:     

One thought on “Menggapai Cita-Cita di Kampus Biru

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image